Kamis, 05 Juni 2014
Masalah Adalah Teman
“Trouble is a Friend”, demikian Lenka membuat ibarat tentang masalah. Ia senantiasa menjadi bagian dari hidup seseorang yang tidak bisa dilepaskan. Ia bisa datang pada siapapun, dimanapun, kapanpun dan dengan cara apapun. kadang bisa diprediksi, namun tak jarang masalah datang secara tiba-tiba yang membuat sang tuan rumah kelimpungan dengan “tamu”nya tersebut.
Meskipun merupakan sebuah keniscayaan, tidak sedikit orang yang tidak bisa mengantisipasi berbagai masalah yang bertandang dalam hidupnya. Bahkan, ada sebagian yang rela meninggalkan “rumah”nya sendiri demi menghindari “tamu” yang mungkin dianggap sangat mengerikan. Mati dianggap lebih nyaman. Padahal sebesar dan semengerikan apapun masalah yang bertandang tetap saja ia adalah tamu. Ia tak lebih berkuasa terhadap “rumah” dari si empunya rumah. Lebih-lebih Allah sudah menggaransi bahwa “tamu-tamu” yang dikirim-Nya tidak akan melebihi kapasitas para tuan rumah (Surah al-Baqarah ayat terakhir). Dalam artian, sang tuan rumah benar-benar punya kuasa penuh atas rumahnya sendiri.
Oleh karena itu, yang menjadi masalah sebanarnya bukan mengenai besar dan kecil atau berat dan ringannya sebuah masalah yang dihadapi, melainkan bagaimana cara melihat masalah tersebut. Ada sebuah cerita menarik yang menggambarkan bagaimana seharusnya menyikapi masalah secara bijaksana, terutama yang merasa tidak kuat dengan masalah-masalah tersebut. Syahdan, di suatu perguruan ada seorang murid yang selalu mengeluhkan masalahnya pada sang guru. Lalu, sang gurupun menyuruh si murid untuk mendatangkan segelas air putih dan sesendok garam. Setelah si murid melakukan apa yang diperintahkan, sang guru kemudian menyuruh si murid untuk melarutkan garam ke dalam air tersebut kemudian menyuruh untuk meminumnya. “bagaimana rasanya?” Tanya sang guru setelah air yang sudah tercampur garam tersebut diminum si murid. “asin, guru” jawab si murid. Kemudian sang guru mengajak si murid ke sebuah telaga luas di seberang peruguruan dengan membawa garam yang sama. Setelah sampai, guru memberikan perintah yang sama, “larutkan garam dalam air lalu minum lah”. Namun, berbeda dengan sebelumnya, kali ini si murid merasakan kesegaran saat meminum air yang telah bercampur dengan garam yang sama.
Kisah di atas memberikan gambaran bahwa masalah bisa menjadi begitu sangat terasa ketika wadahnya sempit, dan sebaliknya bisa sama sekali tak terasa ketika wadahnya luas/lapang. Inilah solusi yang diajarkan sang guru pada muridnya. Sila masalah sebanyak mungkin, seberat apapun. Ia tak akan terasa apapun ketika orang yang bersangkutan memiliki hati yang lapang. Kenapa hati? Karena ia tempat di mana masalah dilarutkan.
Penulis jadi teringat kebiasaan pengasuh pesantren di mana penulis menimba ilmu sebelum di UIN SUKA ini. Beliau sangat suka membaca surat "alamain" (dua alam: alam tara kaifa... dan alam nasyrah...) dalam bacaan surat setelah al-Fatihah ketika shalat subuh. Kebiasaan ini juga yang selalu penulis lakukan ketika berkesampatan menjadi imam shalat, di samping juga dasar hadis yang penulis ketahui ketika duduk di bangku MTs. Sebelumnya, penulis hanya menyadarinya sebagai sebuah kebiasaan yang sudah turun temurun yang didasarkan pada riwayat hadis. Dalam memahami ayat tentang kesulitan masalah (surat alam nasyrah/ al-Insyirah), penulis juga hanya memberikan tekanan pada dua ayat “fainna ma’a al-‘usri yusran. Inna ma’a al-‘usri yusran” bahwa selalu ada kemudahan bersama kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Penulis belum terbayang bagaimana cara memperoleh kemudahan-kemudahan tersebut.
Kini, penulis menjadi tersadar bahwa sedari awal Allah telah memberikan petunjuk bagaimana cara memperoleh kemudahan-kemudahan tersebut. Allah, di ayat pertama, terlebih dahulu bertanya pada Nabi sebagai sebuah bentuk konfirmasi bahwa Dia telah melapangkan dada Nabi-Nya tersebut. Kelapangan dada membuat seseorang bisa bijaksana dalam menghadapi masalah-masalah yang tengah dihadapinya sehingga dengan kelapangan tersebut kemudahan-kemudahan akan dengan mudah bertandang ke “rumah”nya sebagai cover terhadap “tamu-tamu” rutinnya yang sering kali menjengkelkan itu. Rabbi isyrah li shadri wa yassir li amri. Wallahu a’lam...
Langganan:
Komentar (Atom)