Satu, sebuah angka yang istimewa. Ia adalah
angka pertama setelah angka nol. Angka yang menunjukkan sebuah entitas yang
berwujud setelah angka yang menunjukkan ketidakwujudan. Itu artinya, ia tidak
tercipta dari wujud angka yang lain, justru darinyalah angka lain tercipta. Dua
tercipta dari satu yang ditambah satu, demikian juga tiga, empat dan
seterusnya. Satu adalah permulaan dari segala yang ada. itulah mengapa Tuhan itu
harus satu. Bukan satu (kesatuan) atau satu (satuan). Ia harus satu yang
benar-benar satu, satu yang satu-satunya. Oleh karenanya tidak ada suatu apapun
yang memadaninya.
Mengenai hal ini, pernah suatu ketika guru
sufi menanyakan sebuah tebakan pada murid-muridnya: “Siapa/apa yang bisa
dilihat oleh orang awam setiap hari, bisa dilihat oleh para pejabat ketika
acara resmi kenegaraan, tetapi tidak pernah dilihat oleh Allah?” sontak para
murid kebingungan apa gerangan yang luput dari pandangan Allah yang maha
melihat segala yang ada. “Itu dia jawabannya murid-murid! Tidak ada segala hal
yang wujud luput dari pandangan-Nya. Segala hal yang ada. Kalo tidak pernah ada
bagaimana mungkin Allah melihatnya? Sepadannya. Itulah jawabannya. Orang melihat
sepadannya, sesama orang awam, setiap hari. Para pejabat bisa melihat sepadannya,
sesama pejabat, ketika ada acara kenegaraan. Nah, Allah tidak pernah melihat
sepadan-Nya karena ia tidak pernah ada.
Karena Allah
adalah satu yang satu-satunya, maka tidak ada satupun entitas lain yang pantas dibandingkan
dengan-Nya selain diri-Nya. Beberapa sifat Allah yang menggunakan redaksi tafdhil
(comparative/superlative) pun dihilangkan fungsi tafdhil-nya, seperti kalimat
Allahu Akbar yang dimaknai Allah itu maha besar, bukan Allah itu lebih/paling
besar. Karena jika dimaknai seperti yang kedua, maka akan menyiratkan makna perbandingan
antara Allah dengan yang lain. Sedangkan Allah tidak bisa dibanding-bandingkan.
Namun demikian, ada pandangan menarik terkait
dengan sifat Allah yang menggunakan bentuk tafdhil. Penggunaan sighat tafdhil
tentu bukan tanpa tujuan sehingga fungsi sighat tersebut tidak bisa
kemudian dihilangankan serta-merta. Seperti contoh tadi, kata akbar dalam
kalimat “Allahu akbar” justru seharusnya dimaknai lebih besar dari pada “maha
besar”. Wujud Allah memang tidak bisa dibanding-bandingkan, akan tetapi hakikat
wujud-Nya tidak pernah bisa dijangkau oleh pengetahuan manusia secanggih
apapun. Oleh karena itu, pemaknaan maha besar memang benar namun tidak menggugah
hati. Berbeda ketika kata akbar dimaknai dengan lebih besar. Pemaknaan seperti
ini lebih akan lebih menghunjam hati karena hati selalu bergerak dinamis. Hati dalam
bahasa arab berbunyi “qalb” yang secara harfiah bermakna bolak-balik. Ketika dikatakan
“Allahu akbar” (Allah itu lebih besar) maka hati akan menjadi tergugah bahwa Allah
terasa lebih besar dari sebelumnya dan diri menjadi lebih kerdil di hadapan-Nya.
Demikian setiap kali mendengar kalimat Allah akbar dengan penuh kesadaran, penghambaan
terhadap Allah akan senantiasa bertambah.
Adalah Emha Ainun Najib atau biasa disapa cak
Nun yang mengorbitkan pandangan tersebut. Pandangan seperti ini menunjukkan
adanya hirarki dalam sebuah pengetahuan. Tafdhil awalnya bermakna
melebihkan yang satu dari yang lain. Kemudian naik pada tingkat selanjutnya
dengan menghilangkan fungsi tafdhil karena melihat status Allah yang tak
terbandingi. Lalu naik lagi pada tingkat pemaknaan yang lebih mendalam dengan
mempertimbangkan akal dan hati. Kasus ini mirip dengan kasus di masa lalu di
mana ada seorang guru bertanya pada para muridnya, seperti ini “bintang di
langit itu kecil ataukah besar, murid-murid?”. Murid pertama menjawab “kecil”. Jawaban
ini didasarkan pada pengetahuannya yang paling mendasar, yaitu pengalaman
inderawi. Murid kedua menjawab “besar” karena ia mendapatkan pengetahuan yang
tidak didapatkan oleh murid pertama. Bukan hanya didasarkan pada pengalaman
penglihatan semata, tetapi didasarkan pada ilmu pengetahuan yang telah diuji. Kemudian
sang guru menambahkan jawaban ketiga ketika sudah tidak ada murid yang
memberikan jawaban lain lagi, bahwa bintang yang ada di langit itu kecil. Inilah
jawaban yang didasarkan pada pengetahuan di tingkat yang lebih tinggi, yaitu
pengetahuan yang tidak hanya memuaskan akal dan pikiran tetapi juga menghunjam
ke dalam lubuk hati yang terdalam. Bintang itu nampak kecil di mata, tetapi
hakikatnya jauh lebih besar dari yang terlihat. Akan tetapi bintang, seperti
halnya semua makhluk, tetaplah kecil jika dibandingkan dengan Allah yang maha
besar. Dengan mengetahui hakikat tentang bintang, ia menjadi lebih kecil di
hadapan mata hati dan Allah terlihat lebih besar lagi. Wallahu A’lam.