Sabtu, 12 September 2015

SATU DAN TEOLOGI TAFDHIL



Satu, sebuah angka yang istimewa. Ia adalah angka pertama setelah angka nol. Angka yang menunjukkan sebuah entitas yang berwujud setelah angka yang menunjukkan ketidakwujudan. Itu artinya, ia tidak tercipta dari wujud angka yang lain, justru darinyalah angka lain tercipta. Dua tercipta dari satu yang ditambah satu, demikian juga tiga, empat dan seterusnya. Satu adalah permulaan dari segala yang ada. itulah mengapa Tuhan itu harus satu. Bukan satu (kesatuan) atau satu (satuan). Ia harus satu yang benar-benar satu, satu yang satu-satunya. Oleh karenanya tidak ada suatu apapun yang memadaninya.
Mengenai hal ini, pernah suatu ketika guru sufi menanyakan sebuah tebakan pada murid-muridnya: “Siapa/apa yang bisa dilihat oleh orang awam setiap hari, bisa dilihat oleh para pejabat ketika acara resmi kenegaraan, tetapi tidak pernah dilihat oleh Allah?” sontak para murid kebingungan apa gerangan yang luput dari pandangan Allah yang maha melihat segala yang ada. “Itu dia jawabannya murid-murid! Tidak ada segala hal yang wujud luput dari pandangan-Nya. Segala hal yang ada. Kalo tidak pernah ada bagaimana mungkin Allah melihatnya? Sepadannya. Itulah jawabannya. Orang melihat sepadannya, sesama orang awam, setiap hari. Para pejabat bisa melihat sepadannya, sesama pejabat, ketika ada acara kenegaraan. Nah, Allah tidak pernah melihat sepadan-Nya karena ia tidak pernah ada.
 Karena Allah adalah satu yang satu-satunya, maka tidak ada satupun entitas lain yang pantas dibandingkan dengan-Nya selain diri-Nya. Beberapa sifat Allah yang menggunakan redaksi tafdhil (comparative/superlative) pun dihilangkan fungsi tafdhil-nya, seperti kalimat Allahu Akbar yang dimaknai Allah itu maha besar, bukan Allah itu lebih/paling besar. Karena jika dimaknai seperti yang kedua, maka akan menyiratkan makna perbandingan antara Allah dengan yang lain. Sedangkan Allah tidak bisa dibanding-bandingkan.
Namun demikian, ada pandangan menarik terkait dengan sifat Allah yang menggunakan bentuk tafdhil. Penggunaan sighat tafdhil tentu bukan tanpa tujuan sehingga fungsi sighat tersebut tidak bisa kemudian dihilangankan serta-merta. Seperti contoh tadi, kata akbar dalam kalimat “Allahu akbar” justru seharusnya dimaknai lebih besar dari pada “maha besar”. Wujud Allah memang tidak bisa dibanding-bandingkan, akan tetapi hakikat wujud-Nya tidak pernah bisa dijangkau oleh pengetahuan manusia secanggih apapun. Oleh karena itu, pemaknaan maha besar memang benar namun tidak menggugah hati. Berbeda ketika kata akbar dimaknai dengan lebih besar. Pemaknaan seperti ini lebih akan lebih menghunjam hati karena hati selalu bergerak dinamis. Hati dalam bahasa arab berbunyi “qalb” yang secara harfiah bermakna bolak-balik. Ketika dikatakan “Allahu akbar” (Allah itu lebih besar) maka hati akan menjadi tergugah bahwa Allah terasa lebih besar dari sebelumnya dan diri menjadi lebih kerdil di hadapan-Nya. Demikian setiap kali mendengar kalimat Allah akbar dengan penuh kesadaran, penghambaan terhadap Allah akan senantiasa bertambah.
Adalah Emha Ainun Najib atau biasa disapa cak Nun yang mengorbitkan pandangan tersebut. Pandangan seperti ini menunjukkan adanya hirarki dalam sebuah pengetahuan. Tafdhil awalnya bermakna melebihkan yang satu dari yang lain. Kemudian naik pada tingkat selanjutnya dengan menghilangkan fungsi tafdhil karena melihat status Allah yang tak terbandingi. Lalu naik lagi pada tingkat pemaknaan yang lebih mendalam dengan mempertimbangkan akal dan hati. Kasus ini mirip dengan kasus di masa lalu di mana ada seorang guru bertanya pada para muridnya, seperti ini “bintang di langit itu kecil ataukah besar, murid-murid?”. Murid pertama menjawab “kecil”. Jawaban ini didasarkan pada pengetahuannya yang paling mendasar, yaitu pengalaman inderawi. Murid kedua menjawab “besar” karena ia mendapatkan pengetahuan yang tidak didapatkan oleh murid pertama. Bukan hanya didasarkan pada pengalaman penglihatan semata, tetapi didasarkan pada ilmu pengetahuan yang telah diuji. Kemudian sang guru menambahkan jawaban ketiga ketika sudah tidak ada murid yang memberikan jawaban lain lagi, bahwa bintang yang ada di langit itu kecil. Inilah jawaban yang didasarkan pada pengetahuan di tingkat yang lebih tinggi, yaitu pengetahuan yang tidak hanya memuaskan akal dan pikiran tetapi juga menghunjam ke dalam lubuk hati yang terdalam. Bintang itu nampak kecil di mata, tetapi hakikatnya jauh lebih besar dari yang terlihat. Akan tetapi bintang, seperti halnya semua makhluk, tetaplah kecil jika dibandingkan dengan Allah yang maha besar. Dengan mengetahui hakikat tentang bintang, ia menjadi lebih kecil di hadapan mata hati dan Allah terlihat lebih besar lagi. Wallahu A’lam.