Semangat Memanusiakan Manusia
Selain membawa risalah tauhid sebagaimana para rasul yang
lain, salah satu tujuan utama diutusnya nabi Muhammad di muka bumi adalah untuk
memanusiakan manusia. Semangat ini bisa dilihat dari sepak terjang nabi selama
hidupnya: bagaimana ia memperlakukan manusia dalam satu posisi yang sama tanpa
harus membedakan jenis kelamin, warna kulit, ras, status sosial, fisik,
pangkat, harta, dan hal lain yang biasanya dijadikan bahan untuk
mengkotak-kotakkan manusia. Bahkan pada mereka yang berbeda keyakian dan menentang
dakwahnya pun, nabi Muhammad tetap memperlakukan mereka dengan sangat
manusiawi. Kisah tentang sikap nabi pada masyarakat Thaif yang menolak keras
kedatangannya bersama para sahabat saat hijrah sudah cukup jelas memberikan
gambaran begitu humanisnya nabi seluruh umat manusia ini.
Semangat ini digenggam dan dijadikan pedoman oleh para penerusnya,
mulai dari sahabat, tabi’in, atba’ al-tabi’in, terus dari satu generasi ke
generasi hingga saat ini. Ambil saja contoh ekspansi Islam ke berbagai penjuru
dunia. Setiap tempat yang dikuasai diberdayakan dan dikembangkan dengan baik
sehingga masyarakatnya bisa menikmati kemakmuran dan kesejahteraan, entah itu
umat Islam sendiri ataupun non muslim. Demikian juga yang dilakukan oleh para
wali songo dan ulama-ulama lain yang menyiarkan agama Islam di tanah Nusantara.
Alih-alih menghancurkan, mereka justru membiarkan masyarakat setempat
mengekspresikan tradisi dan kebudayaan yang ada sembari menyisipkan nilai-nilai
keislaman dan menghilangkan secara perlahan hal-hal yang sama sekali tidak bisa
diterima oleh prinsip dasar Islam. Tindakan ini, selain sebagai strategi
dakwah, bisa juga dipahami sebagai sebuah bentuk apresiasi para ulama pada
hasil karya manusia. Dengan kata lain, semangat yang ingin ditunjukkan oleh
para ulama itu adalah menghargai setiap hasil karya manusia. Mengabaikannya
sama saja dengan mengabaikan kemanusiaan itu sendiri.
Mereka Juga Manusia
Salah satu kalangan masyarakat yang sering dipandang
sebelah mata dan diperlakukan tidak manusiawi adalah waria. Secara sederhana,
waria dipahami sebagai manusia yang lahir dalam fisik laki-laki, namun memiliki
kecendrungan dan kepribadian wanita sehingga mereka berpenampilan dan
berperilaku layaknya wanita. Kelainan ini adakalanya sebab faktor lingkungan
dan adakalanya juga bawaan lahir.
Tak sedikit yang menganggap waria sebagai makhluk rendahan
bahkan terkadang dianggap lebih buruk dari sampah yang menjijikkan. Padahal,
seburuk apapun para waria dalam pandangan sosial, mereka tetaplah manusia. Manusia
yang selalu diperjuangkan oleh nabi harkat dan martabatnya. Toh, walaupun seseorang
melakukan kesalahan, itu tidak bisa menjadi legitimasi untuk merendahkannya. Justru
karena memiliki dua sisi baik dan buruk itu yang membuat seseorang disebut
manusia. Tanpa keburukan, manusia tak akan pernah menjadi lebih baik dari malaikat
dan kehilangan keutamaan sebagai ciptaan terbaik tuhan. Inilah salah satu alasan
yang menginspirasi berdirinya pesantren yang cukup unik di Yogyakarta, yaitu
Pondok Pesantren Waria Senin Kamis al-Fattah Yogyakarta.
Profil Singkat Pesantren
Pesantren ini berdiri dan diresmikan oleh wakil ketua DPRD
kota Yogyakarta pada 8 Juli 2008. Pesantren yang saat ini berlokasi di daerah
Jagalan Kotagede Yogyakarta diawali oleh salah seorang waria bernama Maryani
yang rutin mengikuti pengajian mujahadah al-Fattah di bawah bimbingan KH.
Hamroeli Harun di desa Pathuk mulai tahun 1997. Berawal dari kegelisahannya
akan stigma negatif yang selalu dialamatkan kepadanya dan teman-temannya sesama
waria, ia mulai mengadakan pengajian di rumahnya sebagai pembuktian bahwa mereka
juga bagian dari masyarakat yang eksistensinya ingin diakui. Puncaknya, pada
tahun 2008 Maryani mendirikan sebuah pondok pesantren sebagai tempat belajar
agama bagi para waria setelah mendapatkan restu dari KH. Hamroeli yang
sekaligus menjadi pembina atau pengasuh pondok pesantren waria ini.
Dua tahun setelah berdiri, KH. Hamroeli berhenti mengajar
dikarenakan beberapa alasan. Namun, kegiatan belajar mengajar ilmu agama tetap
berlangsung karena sebagian ustadz tidak ikut berhenti. Pada tahun 2014, Maryani
meninggal dunia. Pesantren ini tetap dikehendaki keberadaannya sehingga
diputuskan untuk meneruskan perjuangan yang telah dibangun oleh Maryani.
Terpilih lah Shinta Ratri sebagai ketua pondok baru sekaligus memindahkan
lokasi pondok yang awalnya di daerah Notoyudan ke daerah Kotagede. KH. Abdul
Muhaimin, pengasuh pondok pesantren Nurul Ummahat yang sekaligus koordinator
FPUB (Forum Persatuan Umat Beragama), diminta untuk menjadi pembina dan
pengasuh baru pondok pesantren waria ini.
Secara garis besar, kegiatan di pondok pesantren ini ada
dua macam: kegiatan mingguan dan tahunan. Kegiatan mingguan berupa kegiatan
rutin setiap minggu. Awalnya dilakukan setiap hari senin dan kamis (karena itu
pesantren ini disebut dengan pesantren senin kamis). Namun setelah lokasinya
pindah, kegiatan mingguan dilakukan hanya seminggu sekali, yaitu pada hari
ahad. Bentuk kegiatan mingguan ini berupa sholat jama’ah, mengaji al-Qur’an,
dzikir, diskusi dan lain sebagainya. Kegiatan dimulai pada sore menjelang
maghrib hingga setelah sholat Isya’. Adapun kegiatan tahunan yang telah
dilakukan, yaitu ziarah kubur, bakti sosial, kegiatan bulan Ramadhan, syawalan,
dan hari raya kurban.
Sementara itu, saat ini jumlah santri di pesantren ini ada
sekitar 30 orang. Mereka tinggal di kediaman masing-masing dan akan berkumpul
di pondok sesuai dengan jadwal kegiatan pesantren yang telah ditentukan. Para
santri memiliki berbagai macam profesi, mulai dari berdagang, ngamen, pengrajin,
hingga ada juga yang menjadi pekerja seks komersial (psk). Akan tetapi, mereka
tetap memiliki kemauan untuk belajar agama dan beribadah sehingga kehadiran
pondok pesantren ini membuat mereka merasa diterima dan mendapatkan tempat
untuk belajar.
Idris Ahmad Rifai dalam penelitiannya menyebutkan bahwa
pesantren ini mendapatkan apresiasi yang tinggi dari para waria. Salah satu santri
yang bernama Yeti, misalnya, mengungkapkan rasa syukurnya dengan hadirnya pesantren
ini karena ia merasa mendapatkan tempat untuk beribadah dan mempelajari agama.
Tanpa pesantren ini, ia dan teman-teman warianya merasa kesulitan untuk
beribadah di tempat ibadah umum karena pasti akan ditolak. Yuni Shara, salah
seorang santri lainnya mengutarakan hal senada. Ia menilai bahwa kehadiran
pesantren waria ini bisa mengakomodir kebutuhan para waria akan ilmu agama
serta bisa menjadi ajang untuk saling bersilaturrahim.
The Last But Not Least
Menganggap diri paling benar dan paling baik serta
menganggap rendah orang lain merupakan sikap mencederai kemanusiaan: menafikan
fakta bahwa manusia merupakan makhluk yang selalu memiliki potensi tidak hanya
untuk menjadi baik tetapi juga buruk. Bahkan nabi Muhammad pun tidak luput dari
“kesalahan” seperti yang terekam dalam surah ‘Abasa. Dalam surah tersebut,
Allah menegur nabi karena bermuka masam pada salah seorang sahabatnya yang
tunanetra. Oleh karena itu, dalam melihat sekitar kita harus bisa lebih
bijaksana dalam menyikapinya. Kesalahan bukanlah alasan untuk merendahkan orang
lain. Bahkan tidak ada satu alasan pun yang dibenarkan untuk merendahkan orang
lain. Jika kau melihat kesalahan, Jangan habiskan waktu dengan mengutuknya!
Sebaliknya, datangilah! Perbaikilah! Ayomilah! Karena Allah sangat menyukai
orang-orang yang senantiasa membuat perbaikan (mushlihin). Begitulah kira-kira
pesan tersirat yang bisa diambil dari berdirinya pondok pesantren waria
al-Fattah Yogyakarta ini. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar