Senin, 18 Januari 2016

PONDOK PESANTREN WARIA AL-FATTAH YOGYAKARTA



Semangat Memanusiakan Manusia
Selain membawa risalah tauhid sebagaimana para rasul yang lain, salah satu tujuan utama diutusnya nabi Muhammad di muka bumi adalah untuk memanusiakan manusia. Semangat ini bisa dilihat dari sepak terjang nabi selama hidupnya: bagaimana ia memperlakukan manusia dalam satu posisi yang sama tanpa harus membedakan jenis kelamin, warna kulit, ras, status sosial, fisik, pangkat, harta, dan hal lain yang biasanya dijadikan bahan untuk mengkotak-kotakkan manusia. Bahkan pada mereka yang berbeda keyakian dan menentang dakwahnya pun, nabi Muhammad tetap memperlakukan mereka dengan sangat manusiawi. Kisah tentang sikap nabi pada masyarakat Thaif yang menolak keras kedatangannya bersama para sahabat saat hijrah sudah cukup jelas memberikan gambaran begitu humanisnya nabi seluruh umat manusia ini.
Semangat ini digenggam dan dijadikan pedoman oleh para penerusnya, mulai dari sahabat, tabi’in, atba’ al-tabi’in, terus dari satu generasi ke generasi hingga saat ini. Ambil saja contoh ekspansi Islam ke berbagai penjuru dunia. Setiap tempat yang dikuasai diberdayakan dan dikembangkan dengan baik sehingga masyarakatnya bisa menikmati kemakmuran dan kesejahteraan, entah itu umat Islam sendiri ataupun non muslim. Demikian juga yang dilakukan oleh para wali songo dan ulama-ulama lain yang menyiarkan agama Islam di tanah Nusantara. Alih-alih menghancurkan, mereka justru membiarkan masyarakat setempat mengekspresikan tradisi dan kebudayaan yang ada sembari menyisipkan nilai-nilai keislaman dan menghilangkan secara perlahan hal-hal yang sama sekali tidak bisa diterima oleh prinsip dasar Islam. Tindakan ini, selain sebagai strategi dakwah, bisa juga dipahami sebagai sebuah bentuk apresiasi para ulama pada hasil karya manusia. Dengan kata lain, semangat yang ingin ditunjukkan oleh para ulama itu adalah menghargai setiap hasil karya manusia. Mengabaikannya sama saja dengan mengabaikan kemanusiaan itu sendiri.

Mereka Juga Manusia
Salah satu kalangan masyarakat yang sering dipandang sebelah mata dan diperlakukan tidak manusiawi adalah waria. Secara sederhana, waria dipahami sebagai manusia yang lahir dalam fisik laki-laki, namun memiliki kecendrungan dan kepribadian wanita sehingga mereka berpenampilan dan berperilaku layaknya wanita. Kelainan ini adakalanya sebab faktor lingkungan dan adakalanya juga bawaan lahir.
Tak sedikit yang menganggap waria sebagai makhluk rendahan bahkan terkadang dianggap lebih buruk dari sampah yang menjijikkan. Padahal, seburuk apapun para waria dalam pandangan sosial, mereka tetaplah manusia. Manusia yang selalu diperjuangkan oleh nabi harkat dan martabatnya. Toh, walaupun seseorang melakukan kesalahan, itu tidak bisa menjadi legitimasi untuk merendahkannya. Justru karena memiliki dua sisi baik dan buruk itu yang membuat seseorang disebut manusia. Tanpa keburukan, manusia tak akan pernah menjadi lebih baik dari malaikat dan kehilangan keutamaan sebagai ciptaan terbaik tuhan. Inilah salah satu alasan yang menginspirasi berdirinya pesantren yang cukup unik di Yogyakarta, yaitu Pondok Pesantren Waria Senin Kamis al-Fattah Yogyakarta.

Profil Singkat Pesantren
Pesantren ini berdiri dan diresmikan oleh wakil ketua DPRD kota Yogyakarta pada 8 Juli 2008. Pesantren yang saat ini berlokasi di daerah Jagalan Kotagede Yogyakarta diawali oleh salah seorang waria bernama Maryani yang rutin mengikuti pengajian mujahadah al-Fattah di bawah bimbingan KH. Hamroeli Harun di desa Pathuk mulai tahun 1997. Berawal dari kegelisahannya akan stigma negatif yang selalu dialamatkan kepadanya dan teman-temannya sesama waria, ia mulai mengadakan pengajian di rumahnya sebagai pembuktian bahwa mereka juga bagian dari masyarakat yang eksistensinya ingin diakui. Puncaknya, pada tahun 2008 Maryani mendirikan sebuah pondok pesantren sebagai tempat belajar agama bagi para waria setelah mendapatkan restu dari KH. Hamroeli yang sekaligus menjadi pembina atau pengasuh pondok pesantren waria ini.
Dua tahun setelah berdiri, KH. Hamroeli berhenti mengajar dikarenakan beberapa alasan. Namun, kegiatan belajar mengajar ilmu agama tetap berlangsung karena sebagian ustadz tidak ikut berhenti. Pada tahun 2014, Maryani meninggal dunia. Pesantren ini tetap dikehendaki keberadaannya sehingga diputuskan untuk meneruskan perjuangan yang telah dibangun oleh Maryani. Terpilih lah Shinta Ratri sebagai ketua pondok baru sekaligus memindahkan lokasi pondok yang awalnya di daerah Notoyudan ke daerah Kotagede. KH. Abdul Muhaimin, pengasuh pondok pesantren Nurul Ummahat yang sekaligus koordinator FPUB (Forum Persatuan Umat Beragama), diminta untuk menjadi pembina dan pengasuh baru pondok pesantren waria ini.
Secara garis besar, kegiatan di pondok pesantren ini ada dua macam: kegiatan mingguan dan tahunan. Kegiatan mingguan berupa kegiatan rutin setiap minggu. Awalnya dilakukan setiap hari senin dan kamis (karena itu pesantren ini disebut dengan pesantren senin kamis). Namun setelah lokasinya pindah, kegiatan mingguan dilakukan hanya seminggu sekali, yaitu pada hari ahad. Bentuk kegiatan mingguan ini berupa sholat jama’ah, mengaji al-Qur’an, dzikir, diskusi dan lain sebagainya. Kegiatan dimulai pada sore menjelang maghrib hingga setelah sholat Isya’. Adapun kegiatan tahunan yang telah dilakukan, yaitu ziarah kubur, bakti sosial, kegiatan bulan Ramadhan, syawalan, dan hari raya kurban.
Sementara itu, saat ini jumlah santri di pesantren ini ada sekitar 30 orang. Mereka tinggal di kediaman masing-masing dan akan berkumpul di pondok sesuai dengan jadwal kegiatan pesantren yang telah ditentukan. Para santri memiliki berbagai macam profesi, mulai dari berdagang, ngamen, pengrajin, hingga ada juga yang menjadi pekerja seks komersial (psk). Akan tetapi, mereka tetap memiliki kemauan untuk belajar agama dan beribadah sehingga kehadiran pondok pesantren ini membuat mereka merasa diterima dan mendapatkan tempat untuk belajar.
Idris Ahmad Rifai dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pesantren ini mendapatkan apresiasi yang tinggi dari para waria. Salah satu santri yang bernama Yeti, misalnya, mengungkapkan rasa syukurnya dengan hadirnya pesantren ini karena ia merasa mendapatkan tempat untuk beribadah dan mempelajari agama. Tanpa pesantren ini, ia dan teman-teman warianya merasa kesulitan untuk beribadah di tempat ibadah umum karena pasti akan ditolak. Yuni Shara, salah seorang santri lainnya mengutarakan hal senada. Ia menilai bahwa kehadiran pesantren waria ini bisa mengakomodir kebutuhan para waria akan ilmu agama serta bisa menjadi ajang untuk saling bersilaturrahim.

The Last But Not Least
Menganggap diri paling benar dan paling baik serta menganggap rendah orang lain merupakan sikap mencederai kemanusiaan: menafikan fakta bahwa manusia merupakan makhluk yang selalu memiliki potensi tidak hanya untuk menjadi baik tetapi juga buruk. Bahkan nabi Muhammad pun tidak luput dari “kesalahan” seperti yang terekam dalam surah ‘Abasa. Dalam surah tersebut, Allah menegur nabi karena bermuka masam pada salah seorang sahabatnya yang tunanetra. Oleh karena itu, dalam melihat sekitar kita harus bisa lebih bijaksana dalam menyikapinya. Kesalahan bukanlah alasan untuk merendahkan orang lain. Bahkan tidak ada satu alasan pun yang dibenarkan untuk merendahkan orang lain. Jika kau melihat kesalahan, Jangan habiskan waktu dengan mengutuknya! Sebaliknya, datangilah! Perbaikilah! Ayomilah! Karena Allah sangat menyukai orang-orang yang senantiasa membuat perbaikan (mushlihin). Begitulah kira-kira pesan tersirat yang bisa diambil dari berdirinya pondok pesantren waria al-Fattah Yogyakarta ini. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar