Senin, 18 Januari 2016

PONDOK PESANTREN WARIA AL-FATTAH YOGYAKARTA



Semangat Memanusiakan Manusia
Selain membawa risalah tauhid sebagaimana para rasul yang lain, salah satu tujuan utama diutusnya nabi Muhammad di muka bumi adalah untuk memanusiakan manusia. Semangat ini bisa dilihat dari sepak terjang nabi selama hidupnya: bagaimana ia memperlakukan manusia dalam satu posisi yang sama tanpa harus membedakan jenis kelamin, warna kulit, ras, status sosial, fisik, pangkat, harta, dan hal lain yang biasanya dijadikan bahan untuk mengkotak-kotakkan manusia. Bahkan pada mereka yang berbeda keyakian dan menentang dakwahnya pun, nabi Muhammad tetap memperlakukan mereka dengan sangat manusiawi. Kisah tentang sikap nabi pada masyarakat Thaif yang menolak keras kedatangannya bersama para sahabat saat hijrah sudah cukup jelas memberikan gambaran begitu humanisnya nabi seluruh umat manusia ini.
Semangat ini digenggam dan dijadikan pedoman oleh para penerusnya, mulai dari sahabat, tabi’in, atba’ al-tabi’in, terus dari satu generasi ke generasi hingga saat ini. Ambil saja contoh ekspansi Islam ke berbagai penjuru dunia. Setiap tempat yang dikuasai diberdayakan dan dikembangkan dengan baik sehingga masyarakatnya bisa menikmati kemakmuran dan kesejahteraan, entah itu umat Islam sendiri ataupun non muslim. Demikian juga yang dilakukan oleh para wali songo dan ulama-ulama lain yang menyiarkan agama Islam di tanah Nusantara. Alih-alih menghancurkan, mereka justru membiarkan masyarakat setempat mengekspresikan tradisi dan kebudayaan yang ada sembari menyisipkan nilai-nilai keislaman dan menghilangkan secara perlahan hal-hal yang sama sekali tidak bisa diterima oleh prinsip dasar Islam. Tindakan ini, selain sebagai strategi dakwah, bisa juga dipahami sebagai sebuah bentuk apresiasi para ulama pada hasil karya manusia. Dengan kata lain, semangat yang ingin ditunjukkan oleh para ulama itu adalah menghargai setiap hasil karya manusia. Mengabaikannya sama saja dengan mengabaikan kemanusiaan itu sendiri.

Mereka Juga Manusia
Salah satu kalangan masyarakat yang sering dipandang sebelah mata dan diperlakukan tidak manusiawi adalah waria. Secara sederhana, waria dipahami sebagai manusia yang lahir dalam fisik laki-laki, namun memiliki kecendrungan dan kepribadian wanita sehingga mereka berpenampilan dan berperilaku layaknya wanita. Kelainan ini adakalanya sebab faktor lingkungan dan adakalanya juga bawaan lahir.
Tak sedikit yang menganggap waria sebagai makhluk rendahan bahkan terkadang dianggap lebih buruk dari sampah yang menjijikkan. Padahal, seburuk apapun para waria dalam pandangan sosial, mereka tetaplah manusia. Manusia yang selalu diperjuangkan oleh nabi harkat dan martabatnya. Toh, walaupun seseorang melakukan kesalahan, itu tidak bisa menjadi legitimasi untuk merendahkannya. Justru karena memiliki dua sisi baik dan buruk itu yang membuat seseorang disebut manusia. Tanpa keburukan, manusia tak akan pernah menjadi lebih baik dari malaikat dan kehilangan keutamaan sebagai ciptaan terbaik tuhan. Inilah salah satu alasan yang menginspirasi berdirinya pesantren yang cukup unik di Yogyakarta, yaitu Pondok Pesantren Waria Senin Kamis al-Fattah Yogyakarta.

Profil Singkat Pesantren
Pesantren ini berdiri dan diresmikan oleh wakil ketua DPRD kota Yogyakarta pada 8 Juli 2008. Pesantren yang saat ini berlokasi di daerah Jagalan Kotagede Yogyakarta diawali oleh salah seorang waria bernama Maryani yang rutin mengikuti pengajian mujahadah al-Fattah di bawah bimbingan KH. Hamroeli Harun di desa Pathuk mulai tahun 1997. Berawal dari kegelisahannya akan stigma negatif yang selalu dialamatkan kepadanya dan teman-temannya sesama waria, ia mulai mengadakan pengajian di rumahnya sebagai pembuktian bahwa mereka juga bagian dari masyarakat yang eksistensinya ingin diakui. Puncaknya, pada tahun 2008 Maryani mendirikan sebuah pondok pesantren sebagai tempat belajar agama bagi para waria setelah mendapatkan restu dari KH. Hamroeli yang sekaligus menjadi pembina atau pengasuh pondok pesantren waria ini.
Dua tahun setelah berdiri, KH. Hamroeli berhenti mengajar dikarenakan beberapa alasan. Namun, kegiatan belajar mengajar ilmu agama tetap berlangsung karena sebagian ustadz tidak ikut berhenti. Pada tahun 2014, Maryani meninggal dunia. Pesantren ini tetap dikehendaki keberadaannya sehingga diputuskan untuk meneruskan perjuangan yang telah dibangun oleh Maryani. Terpilih lah Shinta Ratri sebagai ketua pondok baru sekaligus memindahkan lokasi pondok yang awalnya di daerah Notoyudan ke daerah Kotagede. KH. Abdul Muhaimin, pengasuh pondok pesantren Nurul Ummahat yang sekaligus koordinator FPUB (Forum Persatuan Umat Beragama), diminta untuk menjadi pembina dan pengasuh baru pondok pesantren waria ini.
Secara garis besar, kegiatan di pondok pesantren ini ada dua macam: kegiatan mingguan dan tahunan. Kegiatan mingguan berupa kegiatan rutin setiap minggu. Awalnya dilakukan setiap hari senin dan kamis (karena itu pesantren ini disebut dengan pesantren senin kamis). Namun setelah lokasinya pindah, kegiatan mingguan dilakukan hanya seminggu sekali, yaitu pada hari ahad. Bentuk kegiatan mingguan ini berupa sholat jama’ah, mengaji al-Qur’an, dzikir, diskusi dan lain sebagainya. Kegiatan dimulai pada sore menjelang maghrib hingga setelah sholat Isya’. Adapun kegiatan tahunan yang telah dilakukan, yaitu ziarah kubur, bakti sosial, kegiatan bulan Ramadhan, syawalan, dan hari raya kurban.
Sementara itu, saat ini jumlah santri di pesantren ini ada sekitar 30 orang. Mereka tinggal di kediaman masing-masing dan akan berkumpul di pondok sesuai dengan jadwal kegiatan pesantren yang telah ditentukan. Para santri memiliki berbagai macam profesi, mulai dari berdagang, ngamen, pengrajin, hingga ada juga yang menjadi pekerja seks komersial (psk). Akan tetapi, mereka tetap memiliki kemauan untuk belajar agama dan beribadah sehingga kehadiran pondok pesantren ini membuat mereka merasa diterima dan mendapatkan tempat untuk belajar.
Idris Ahmad Rifai dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pesantren ini mendapatkan apresiasi yang tinggi dari para waria. Salah satu santri yang bernama Yeti, misalnya, mengungkapkan rasa syukurnya dengan hadirnya pesantren ini karena ia merasa mendapatkan tempat untuk beribadah dan mempelajari agama. Tanpa pesantren ini, ia dan teman-teman warianya merasa kesulitan untuk beribadah di tempat ibadah umum karena pasti akan ditolak. Yuni Shara, salah seorang santri lainnya mengutarakan hal senada. Ia menilai bahwa kehadiran pesantren waria ini bisa mengakomodir kebutuhan para waria akan ilmu agama serta bisa menjadi ajang untuk saling bersilaturrahim.

The Last But Not Least
Menganggap diri paling benar dan paling baik serta menganggap rendah orang lain merupakan sikap mencederai kemanusiaan: menafikan fakta bahwa manusia merupakan makhluk yang selalu memiliki potensi tidak hanya untuk menjadi baik tetapi juga buruk. Bahkan nabi Muhammad pun tidak luput dari “kesalahan” seperti yang terekam dalam surah ‘Abasa. Dalam surah tersebut, Allah menegur nabi karena bermuka masam pada salah seorang sahabatnya yang tunanetra. Oleh karena itu, dalam melihat sekitar kita harus bisa lebih bijaksana dalam menyikapinya. Kesalahan bukanlah alasan untuk merendahkan orang lain. Bahkan tidak ada satu alasan pun yang dibenarkan untuk merendahkan orang lain. Jika kau melihat kesalahan, Jangan habiskan waktu dengan mengutuknya! Sebaliknya, datangilah! Perbaikilah! Ayomilah! Karena Allah sangat menyukai orang-orang yang senantiasa membuat perbaikan (mushlihin). Begitulah kira-kira pesan tersirat yang bisa diambil dari berdirinya pondok pesantren waria al-Fattah Yogyakarta ini. Wallahu a’lam.

Sabtu, 12 September 2015

SATU DAN TEOLOGI TAFDHIL



Satu, sebuah angka yang istimewa. Ia adalah angka pertama setelah angka nol. Angka yang menunjukkan sebuah entitas yang berwujud setelah angka yang menunjukkan ketidakwujudan. Itu artinya, ia tidak tercipta dari wujud angka yang lain, justru darinyalah angka lain tercipta. Dua tercipta dari satu yang ditambah satu, demikian juga tiga, empat dan seterusnya. Satu adalah permulaan dari segala yang ada. itulah mengapa Tuhan itu harus satu. Bukan satu (kesatuan) atau satu (satuan). Ia harus satu yang benar-benar satu, satu yang satu-satunya. Oleh karenanya tidak ada suatu apapun yang memadaninya.
Mengenai hal ini, pernah suatu ketika guru sufi menanyakan sebuah tebakan pada murid-muridnya: “Siapa/apa yang bisa dilihat oleh orang awam setiap hari, bisa dilihat oleh para pejabat ketika acara resmi kenegaraan, tetapi tidak pernah dilihat oleh Allah?” sontak para murid kebingungan apa gerangan yang luput dari pandangan Allah yang maha melihat segala yang ada. “Itu dia jawabannya murid-murid! Tidak ada segala hal yang wujud luput dari pandangan-Nya. Segala hal yang ada. Kalo tidak pernah ada bagaimana mungkin Allah melihatnya? Sepadannya. Itulah jawabannya. Orang melihat sepadannya, sesama orang awam, setiap hari. Para pejabat bisa melihat sepadannya, sesama pejabat, ketika ada acara kenegaraan. Nah, Allah tidak pernah melihat sepadan-Nya karena ia tidak pernah ada.
 Karena Allah adalah satu yang satu-satunya, maka tidak ada satupun entitas lain yang pantas dibandingkan dengan-Nya selain diri-Nya. Beberapa sifat Allah yang menggunakan redaksi tafdhil (comparative/superlative) pun dihilangkan fungsi tafdhil-nya, seperti kalimat Allahu Akbar yang dimaknai Allah itu maha besar, bukan Allah itu lebih/paling besar. Karena jika dimaknai seperti yang kedua, maka akan menyiratkan makna perbandingan antara Allah dengan yang lain. Sedangkan Allah tidak bisa dibanding-bandingkan.
Namun demikian, ada pandangan menarik terkait dengan sifat Allah yang menggunakan bentuk tafdhil. Penggunaan sighat tafdhil tentu bukan tanpa tujuan sehingga fungsi sighat tersebut tidak bisa kemudian dihilangankan serta-merta. Seperti contoh tadi, kata akbar dalam kalimat “Allahu akbar” justru seharusnya dimaknai lebih besar dari pada “maha besar”. Wujud Allah memang tidak bisa dibanding-bandingkan, akan tetapi hakikat wujud-Nya tidak pernah bisa dijangkau oleh pengetahuan manusia secanggih apapun. Oleh karena itu, pemaknaan maha besar memang benar namun tidak menggugah hati. Berbeda ketika kata akbar dimaknai dengan lebih besar. Pemaknaan seperti ini lebih akan lebih menghunjam hati karena hati selalu bergerak dinamis. Hati dalam bahasa arab berbunyi “qalb” yang secara harfiah bermakna bolak-balik. Ketika dikatakan “Allahu akbar” (Allah itu lebih besar) maka hati akan menjadi tergugah bahwa Allah terasa lebih besar dari sebelumnya dan diri menjadi lebih kerdil di hadapan-Nya. Demikian setiap kali mendengar kalimat Allah akbar dengan penuh kesadaran, penghambaan terhadap Allah akan senantiasa bertambah.
Adalah Emha Ainun Najib atau biasa disapa cak Nun yang mengorbitkan pandangan tersebut. Pandangan seperti ini menunjukkan adanya hirarki dalam sebuah pengetahuan. Tafdhil awalnya bermakna melebihkan yang satu dari yang lain. Kemudian naik pada tingkat selanjutnya dengan menghilangkan fungsi tafdhil karena melihat status Allah yang tak terbandingi. Lalu naik lagi pada tingkat pemaknaan yang lebih mendalam dengan mempertimbangkan akal dan hati. Kasus ini mirip dengan kasus di masa lalu di mana ada seorang guru bertanya pada para muridnya, seperti ini “bintang di langit itu kecil ataukah besar, murid-murid?”. Murid pertama menjawab “kecil”. Jawaban ini didasarkan pada pengetahuannya yang paling mendasar, yaitu pengalaman inderawi. Murid kedua menjawab “besar” karena ia mendapatkan pengetahuan yang tidak didapatkan oleh murid pertama. Bukan hanya didasarkan pada pengalaman penglihatan semata, tetapi didasarkan pada ilmu pengetahuan yang telah diuji. Kemudian sang guru menambahkan jawaban ketiga ketika sudah tidak ada murid yang memberikan jawaban lain lagi, bahwa bintang yang ada di langit itu kecil. Inilah jawaban yang didasarkan pada pengetahuan di tingkat yang lebih tinggi, yaitu pengetahuan yang tidak hanya memuaskan akal dan pikiran tetapi juga menghunjam ke dalam lubuk hati yang terdalam. Bintang itu nampak kecil di mata, tetapi hakikatnya jauh lebih besar dari yang terlihat. Akan tetapi bintang, seperti halnya semua makhluk, tetaplah kecil jika dibandingkan dengan Allah yang maha besar. Dengan mengetahui hakikat tentang bintang, ia menjadi lebih kecil di hadapan mata hati dan Allah terlihat lebih besar lagi. Wallahu A’lam.

Minggu, 14 Desember 2014

INTEGRATED SYSTEM ALA PESANTREN ISLAMIC STUDIES CENTRE (ISC) ASWAJA LINTANG SONGO YOGYAKARTA



Pondok Pesantren Islamic Studies Centre (ISC) Aswaja Lintang Songo merupakan satu dari sekian banyak pesantren yang berkiprah dalam pengembangan sosio-kultural masyarakat –khususnya bidang keislaman—sebagaimana lazimnya pondok pesantren. Pesantren yang berlokasi di Piyungan, Bantul, Yogyakarta ini mungkin tidak begitu populer jika dibandingkan dengan Pondok Pesantren Krapyak atau Sunan Pandanaran. Hal ini wajar karena memang pesantren ini baru lahir, yaitu tepatnya pada tahun 2006 pesantren ini resmi dilaunching. Namun demikian, ada hal baru yang ditawarkan pesantren ini sebagai sebuah terobosan kreatif dalam sistem pendidikan pesantren secara khusus dan sistem pindidikan Indonesia secara umum. Selain itu, pesantren ini juga memberikan perhatian yang cukup besar dalam memberdayakan masyarakat yang ada di sekitar pesantren.
Sebagaimana dituturkan oleh pendiri sekaligus pengasuh pesantren ISC Aswaja Lintang Songo, KH. Heri Kuswanto, pesantren ini beliau dirikan bertujuan untuk membantu mereka yang tidak mampu secara finansial. Selama ini beliau melihat bahwa terkadang pesantren “tutup mata” terhadap kondisi perekonomian para wali santrinya. Sebagian pesantren “memaksa” wali membayarkan sejumlah uang untuk keperluan santrinya tanpa mau tahu bagaiamana kondisi riil ekonomi wali tersebut. Selain itu, beliau juga merasa prihatin pada alumnus santri yang beliau pandang masih banyak yang canggung dalam mengarungi realitas kehidupan terutama dalam hal kemandirian wirausaha.
Oleh karena itu, beliau menawarkan sebuah sistem yang memadukan tiga komponen untuk mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat: Agama, Sains (Pengetahuan), dan Ekonomi. Menurut beliau, ketiga komponen tersebut tidak bisa dipisahkan dan juga tidak bisa mengunggulkan satu atas yang lain. Beliau menyebutnya dengan sistem yang terpadu (integrated system). Bagi beliau, santri tidak boleh hanya memiliki pengetahuan keislaman dan sains Gagasan ini beliau ejawantahkan di dalam visi pesantrennya, yaitu “membentuk santri berkualitas, mandiri dan bermanfaat bagi masyarakat”, kemudian beliau aplikasikan langsung di dalam proses belajar-mengajar di pesantren ini.
Ada tiga proses pembelajaran yang dikembangkan di pesantren ini. Pertama, pembelajaran dalam rangka pengembangan pegetahuan keislaman. Dalam hal ini tidak ada perbedaan mencolok dengan tradisi pesantren pada umumnya. Pengajaran dilakukan menggunakan kitab kuning dengan sistem bandongan. Materi yang dipilih lebih kepada materi yang bersifat aplikatif, seperti tauhid, fiqh, dan tashawuf praktis. Di sini proses pembelajaran diampu oleh pengasuh dan tenaga pendidik lainnya. Kedua, pembelajaran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan (sains). Dalam hal ini proses pembelajaran “diserahkan” pada lembaga-lembaga formal. KH. Heri mewajibkan para santrinya untuk belajar di lembaga pendidikan formal sesuai dengan tingkatan masing-masing, mulai dari sekolah tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Ketiga, pembalajaran untuk mengasah kemadirian para santri dan kepekaan terhadap realitas sosial. KH. Heri Kuswanto mendidik para santrinya untuk memraktikkan ajaran-ajaran keislaman yang telah disampaikan, seperti praktik khutbah shalat jum’at, memimpin tahlil, men-shalati janazah, dan lain sebagainya. Hal ini bertujuan agar para santrinya tidak canggung lagi berkiprah di tengah masyarakat ketika sudah kembali ke asal mereka masing-masing. Selanjutnya, KH. Heri juga mengajarkan para santrinya untuk terampil berwirausaha. ada beberapa unit usaha yang disediakan oleh pesantren sebagai media pembelajaran kewirausahaan, seperti pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan, konveksi, pembuatan roti, dan lain sebagainya. Kebanyakan proses pembelajaran dipegang oleh ahli sesuai bidangnya. Santrinya juga diberikan keleluasaan untuk memilih bidang usaha yang ingin dipelajari. Namun, ada satu bidang yang ditangani langsung oleh KH. Heri sendiri dan harus diikuti oleh semua santri, yaitu bidang pertanian. Hal ini dilakukan karena selain sebagai bentuk pembelajaran kewirausahaan yang bersifat menyeluruh, juga sebagai sumber pokok untuk makan sehari-hari, sehingga santri tidak perlu mengeluarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kamis, 16 Oktober 2014

Langkah-Langkah Membuat Esai

1. Memilih Topik
Bila topik telah ditentukan, anda mungkin tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih. Namun demikian, bukan berarti anda siap
untuk menuju langkah berikutnya.

Pikirkan terlebih dahulu tipe naskah yang akan anda tulis. Apakah berupa tinjauan umum, atau analisis topik secara khusus? Jika
hanya merupakan tinjauan umum, anda dapat langsung menuju ke langkah berikutnya. Tapi bila anda ingin melakukan analisis
khusus, topik anda harus benar-benar spesifik. Jika topik masih terlalu umum, anda dapat mempersempit topik anda. Sebagai
contoh, bila topik tentang “Indonesia” adalah satu topik yang masih sangat umum. Jika tujuan anda menulis sebuah gambaran
umum (overview), maka topik ini sudah tepat. Namun bila anda ingin membuat analisis singkat, anda dapat mempersempit topik
ini menjadi “Kekayaan Budaya Indonesia” atau “Situasi Politik di Indonesia. Setelah anda yakin akan apa yang anda tulis, anda
bisa melanjutkan ke langkah berikutnya.

Bila topik belum ditentukan, maka tugas anda jauh lebih berat. Di sisi lain, sebenarnya anda memiliki kebebasan memilih topik
yang anda sukai, sehingga biasanya membuat esai anda jauh lebih kuat dan berkarakter.
2. Tentukan Tujuan
Tentukan terlebih dahulu tujuan esai yang akan anda tulis. Apakah untuk meyakinkan orang agar mempercayai apa yang anda
percayai? Menjelaskan bagaimana melakukan hal-hal tertentu? Mendidik pembaca tentang seseorang, ide, tempat atau sesuatu?
Apapun topik yang anda pilih, harus sesuai dengan tujuannya.
3. Tuliskan Minat Anda
Jika anda telah menetapkan tujuan esai anda, tuliskan beberapa subyek yang menarik minat anda. Semakin banyak subyek yang
anda tulis, akan semakin baik. Jika anda memiliki masalah dalam menemukan subyek yang anda minati, coba lihat di sekeliling
anda. Adakah hal-hal yang menarik di sekitar anda? Pikirkan hidup anda? Apa yang anda lakukan? Mungkin ada beberapa yang
menarik untuk dijadikan topik. Jangan mengevaluasi subyek-subyek tersebut, tuliskan saja segala sesuatu yang terlintas di
kepala.
4. Evaluasi Potensial Topik
Jika telah ada bebearpa topik yang pantas, pertimbangkan masing-masing topik tersebut. Jika tujuannya mendidik, anda harus
mengerti benar tentang topik yang dimaksud. Jika tujuannya meyakinkan, maka topik tersebut harus benar-benar menggairahkan.
Yang paling penting, berapa banyak ide-ide yang anda miliki untuk topik yang anda pilih.

Sebelum anda meneruskan ke langkah berikutnya, lihatlah lagi bentuk naskah yang anda tulis. Sama halnya dengan kasus
dimana topik anda telah ditentukan, anda juga perlu memikirkan bentuk naskah yang anda tulis.
5. Membuat Outline
Tujuan dari pembuatan outline adalah meletakkan ide-ide tentang topik anda dalam naskah dalam sebuah format yang
terorganisir.

  1. Mulailah dengang menulis topik anda di bagian atas
  2. Tuliskan angka romawi I, II, III di sebelah kiri halaman tersebut, dengan jarak yang cukup lebar diantaranya
  3. Tuliskan garis besar ide anda tentang topik yang anda maksud:
  • Jika anda mencoba meyakinkan, berikan argumentasi terbaik
  • Jika anda menjelaskan satu proses, tuliskan langkah-langkahnya sehingga dapat dipahami pembaca
  • Jika anda mencoba menginformasikan sesuatu, jelaskan kategori utama dari informasi tersebut
  1. Pada masing-masing romawi, tuliskan A, B, dan C menurun di sis kiri halaman tersebut. Tuliskan fakta atau informasi yang mendukung ide utama

6. Menuliskan Tesis
Suatu pernyataan tesis mencerminkan isi esai dan poin penting yang akan disampaikan oleh pengarangnya. Anda telah
menentukan topik dari esai anda, sekarang anda harus melihat kembali outline yang telah anda buat, dan memutuskan poin
penting apa yang akan anda buat. Pernyataan tesis anda terdiri dari dua bagian:
  • Bagian pertama menyatakan topik. Contoh: Budaya Indonesia, Korupsi di Indonesia
  • Bagian kedua menyatakan poin-poin dari esai anda. Contoh: memiliki kekayaan yang luar biasa, memerlukan waktu yang panjang untuk memberantasnya, dst.

7. Menuliskan Tubuh Esai
Bagian ini merupakan bagian paling menyenangkan dari penulisan sebuah esai. Anda dapat menjelaskan, menggambarkan dan
memberikan argumentasi dengan lengkap untuk topik yang telah anda pilih. Masing-masing ide penting yang anda tuliskan pada
outline akan menjadi satu paragraf dari tubuh tesis anda.

Masing-masing paragraf memiliki struktur yang serupa:
  • Mulailah dengan menulis ide besar anda dalam bentuk kalimat. Misalkan ide anda adalah: “Pemberantasan korupsi di Indonesia”, anda dapat menuliskan: “Pemberantasan korupsi di Indonesia memerlukan kesabaran besar dan waktu yang lama”
  • Kemudian tuliskan masing-masing poin pendukung ide tersebut, namun sisakan empat sampai lima baris.
  • Pada masing-masing poin, tuliskan perluasan dari poin tersebut. Elaborasi ini dapat berupa deskripsi atau penjelasan atau diskusi
  • Bila perlu, anda dapat menggunakan kalimat kesimpulan pada masing-masing paragraf.
  • Setelah menuliskan tubuh tesis, anda hanya tinggal menuliskan dua paragraf: pendahuluan dan kesimpulan.

8. Menulis Paragraf Pertama
  • Mulailah dengan menarik perhatian pembaca.
  • Memulai dengan suatu informasi nyata dan terpercaya. Informasi ini tidak perlu benar-benar baru untuk pembaca anda, namun bisa menjadi ilustrasi untuk poin yang anda buat.
  • Memulai dengan suatu anekdot, yaitu suatu cerita yang menggambarkan poin yang anda maksud. Berhati-hatilah dalam membuat anekdot. Meski anekdot ini efektif untuk membangun ketertarikan pembaca, anda harus menggunakannya dengan tepat dan hati-hati.
  • Menggunakan dialog dalam dua atau tiga kalimat antara beberapa pembicara untuk menyampaikan poin anda.
  • Tambahkan satu atau dua kalimat yang akan membawa pembaca pada pernyataan tesis anda.
  • Tutup paragraf anda dengan pernyataan tesis anda.

9. Menuliskan Kesimpulan
Kesimpulan merupakan rangkuman dari poin-poin yang telah anda kemukakan dan memberikan perspektif akhir anda kepada
pembaca. Tuliskan dalam tiga atau empat kalimat (namun jangan menulis ulang sama persis seperti dalam tubuh tesis di atas)
yang menggambarkan pendapat dan perasaan anda tentang topik yang dibahas. Anda dapat menggunakan anekdot untuk
menutup esai anda.

10. Memberikah Sentuhan Akhir
  • Teliti urutan paragraf Mana yang paling kuat? Letakkan paragraf terkuat pada urutan pertama, dan paragraf terlemah di tengah. Namun, urutan tersebut harus masuk akal. Jika naskah anda menjelaskan suatu proses, anda harus bertahan pada urutan yang anda buat.
  • Teliti format penulisan. Telitilah format penulisan seperti margin, spasi, nama, tanggal, dan sebagainya
  • Teliti tulisan. Anda dapat merevisi hasil tulisan anda, memperkuat poin yang lemah. Baca dan baca kembali naskah anda.
  • Apakah masuk akal? Tinggalkan dulu naskah anda beberapa jam, kemudian baca kembali. Apakah masih masuk akal?
  • Apakah kalimat satu dengan yang lain mengalir dengan halus dan lancar? Bila tidak, tambahkan bebearpa kata dan frase untuk menghubungkannya. Atau tambahkan satu kalimat yang berkaitan dengan kalimat sebelumnya
  • Teliti kembali penulisan dan tata bahasa anda. 


    Sumber:duniaesai.com