Sering kali terdengar sebuah pertanyaan: Apakah orang
itu memilih Islam (beragama Islam) karena usahanya sendiri atau karena
mendapatkan petunjuk dari Allah? Apakah iman dan kafir itu merupakan kehendak
Allah atau kehendak manusia sendiri? Sejak dulu masalah ini telah menjadi
perdebatan yang sengit dan tak kunjung selesai, khususnya bagi Ahli Kalam.
Materi yang diperdebatkan adalah tentang kehendak Tuhan dan ikhtiar manusia,
sejauh mana pengaruh keduanya dalam menentukan nasib dan perjalanan hidup
seseorang. Dalam perkembangannya, muncul tiga aliran Kalam yang sangat menonjol
-yang hingga saat ini tetap mempertahankan fahamnya masing-masing dan sulit
berkompromi- yaitu: Jabariyyah, Asy’ariyyah dan Mu’tazilah.
***
“Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi
Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’
Jika mereka masuk Islam, maka sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk; dan
jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat
Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 20).
“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk,
niscaya Dia melapangkan dadanya (untuk memeluk agama) Islam. Sedang barang
siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak
lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah
menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am: 125)
Jika dilihat dari makna tekstualnya, kedua ayat di atas
seakan-akan saling kontradiktif. Dalam surat Ali Imran: 20 menunjukkan adanya
ikhtiar manusia untuk memilih Islam atau berpaling darinya, sedang dalam surat Al-An’am:
125 menunjukkan bahwa masalah manusia mendapat petunjuk atau tidak itu bergantung
pada kehendak Allah. Tapi kalau kita kaji lebih dalam lagi, sebenarnya tidak
ada yang kontradiktif dari kedua ayat tersebut dan bahkan mustahil diantara
ayat-ayat Al-Qur’an ada kontradiksi (QS. An-Nisa’: 82).
Jika kita merujuk
pada Rukun Iman yang terakhir yaitu iman kepada takdir baik dan buruk, kita
memperoleh pemahaman bahwa pada hakikatnya kebaikan dan keburukan itu sama-sama
ditakdirkan adanya oleh Allah sejak zaman azali. Perbedaannya adalah: 1.
Kebaikan itu ditakdirkan adanya dan dikehendaki Allah agar dipilih oleh manusia
sebagai jalan hidupnya, sedang keburukan ditakdirkan adanya tapi tidak
dikehendaki untuk dipilih manusia; 2. Kebaikan bersumber langsung dari Allah,
sedang keburukan bersumber dari setan atau iblis dan hawa nafsu yang mana
mereka juga ditakdirkan adanya oleh Allah.
Sebagai konsekuensi
dari adanya takdir baik dan buruk, maka di satu sisi Allah menciptakan
fitrah-Nya (fitrah tauhid, kebaikan dan kebenaran) dalam diri manusia (QS.
Ar-Rum: 30), dan di sisi yang lain Allah juga membekali manusia dengan nafsu
(dalam arti hawa nafsu) yang mana menurut tabi’atnya selalu mengajak pada
keburukan dan kejahatan (QS. Yusuf: 53). Allah juga memberikan ilham negatif (fujur)
dan ilham positif (taqwa) dalam jiwa manusia (QS. Asy-Syams: 7-8).
Dengan demikian, berarti manusia sejak awal mula penciptaannya telah mempunyai potensi
baik dan potensi buruk. Kemudian manusia diberi akal agar mampu membedakan mana
yang baik dan mana yang buruk. Dan sebagai terminal dari semua itu adalah hati.
Seandainya Allah tidak menakdirkan keburukan dan tidak membeikan potensi
negatif kepada manusia, maka Dia tidak akan menciptakan sesuatu yang diharamkan
bagi mereka. Namun, Allah menghendaki penciptaan manusia berbeda dengan
penciptaan malaikat. Malaikat diciptakan tanpa ada nafsu dan potensi buruk,
yang ada pada dirinya hanyalah kebaikan dan ketaatan. Penciptaan manusia juga
berbeda dengan penciptaan binatang. Binatang tidak diberi akal pikiran seperti
halnya manusia. Yang menonjol pada dirinya hanyalah nafsu hayawaniyahnya.
Dengan demikian, ikhtiar manusia adalah ikhtiar yang sempurna (jika dibanding
dengan ikhtiar malaikat maupun binatang). Oleh karena itu, jika ia beriman dan
berbuat baik maka derajatnya bisa melebihi derajat malaikat, dan jika ia kafir dan
berbuat buruk, derajatnya bisa lebih rendah dari pada binatang.
Dari uraian di atas
kemudian timbul pertanyaan, sebenarnya potensi manakah yang lebih besar dan
dominan pengaruhnya terhadap pembentukan watak dan perilaku manusia? Dalam hal
ini Syekh Muhammad Abduh mengatakan bahwa pada dasarnya manusia lebih cendrung
pada kebaikan. Dalam menafsirkan ayat “lahaa maa kasabat wa ‘alayhaa
maktasabat” Muhammad Abduh mengatakan: “sesungguhnya perbedaan makna kasaba
dengan iktasaba adalah seperti perbedaan makna ‘amila dengan i’tamala.
Masing-masing dari iktasaba dan i’tamala berfungsi ikhtira’ (membuat-buat)
dan takalluf (melakukan dengan
berat dan sukar). Dengan demikian, ayat tersebut mengisyaratkan bahwa pada
dasarnya manusia cendrung melakukan kebaikan. Sedang untuk terbiasa berbuat
keburukan sangat sukar dan harus dengan upaya yang berat.”
Di sini, jelas
bahwa Allah SWT selalu menghendaki agar manusia melakukan kebaikan dan melarang
manusia melakukan keburukan. Meskipun demikian, manusia tetap diberi kebebasan
untuk memilih jalan hidupnya sendiri dengan segala resiko dan konsekuensinya
(QS. Al-Kahfi: 29). Namun, ikhtiar manusia itu tidak lepas dari kehendak Allah
SWT. Dr. Muhammad Imarah membedakan kehendak Tuhan menjadi dua. Pertama,
kehendak yang bersifat paksaan dan absolut. Kehendak ini tidak bisa dilakukan
kecuali oleh Allah sendiri seperti dalam masalah penciptaan-Nya. Kedua, kehendak
Allah yang disertai pemilihan, penyerahan dan pemberian kekuasaan kepada
manusia sebagai khalifah-Nya. Iman dan takwa adalah kehendak Allah, tapi manusia
diberi pemilihan, penyerahan dan pemberian kekuasaan agar perintah, larangan
dan semua ajaran yang disampaikan oleh para rasul-Nya ada makna dan hikmahnya. Maka,
tidak salah apabila mayoritas mufassirin menafsiri ayat “Barang siapa
yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia
melapangkan dadanya (untuk memeluk agama) Islam” dengan adanya intervensi Allah
dalam keislaman seseorang karena memang hidayah dan petunjuk itu berasal dari
Allah. Tidak salah juga jika ada sebagian mufassir yang menafsirinya
dengan adanya ikhtiar manusia dalam perolehan hidayah Allah sebagaimana yang
diutarakan oleh Muhammad Abduh. Karena pada akhirnya manusia jugalah yang akan
menanggung segala resiko dari pilihan mereka sendiri. Yang salah adalah apabila
memutlakkan kehendak Tuhan saja atau ikhtiar manusia saja. Karena jika kehendak
Tuhan dimutlakkan dan menafikan ikhtiar manusia, maka apalah manfaat dari
perintah, larangan dan semua beban taklif yang berkaitan dengan ikhtiar
manusia. Demikian juga jika ikhtiar manusia dimutlakkan. Itu akan membuat
kesombongan saja selain juga akan
membatasi kehendak-Nya. Wallahu A’lam bi al-Shawab.