Bisa jadi, kata akhlak sudah tidak asing lagi di
telinga kita. Dari bangku sekolah dasar kita sudah diajari pengetahuan tentang
akhlak. Hadits yang menerangkan tentang akhlak juga banyak. Entah itu akhlak
yang baik maupun yang jelek. Di antaranya,
hadits yang berbunyi; “innamaa bu’itstu liutammima makaarimal akhlaaq”
(aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang baik). Juga sabda nabi
ketika beliau ditanya tentang seorang perempuan yang selalu puasa dan sholat
malam tapi akhlaknya jelek, dia selalu menyakiti tetangganya dengan lisannya, “laa
khaira fiihaa hiya min ahlinnaar” (tiada kebaikan baginya, dia termasuk
penghuni neraka). Namun demikian sebenarnya masih banyak yang salah memahami
hakikat makna akhlak itu sendiri.
Banyak orang mengartikan akhlak sebagai sebuah action
(tingkah laku) seseorang. Jika tingkah lakunya itu dinilai baik menurut
pandangan akal maupun agama, maka orang itu dikatakan berakhlak baik. Demikian
juga sebaliknya. Di sinilah letak kekeliruan kebanyakan kita dalam memahami makna
akhlak. Akhlak, menurut Imam Al-Ghazali, adalah sebuah sifat yang melekat pada
diri seseorang yang dapat melahirkan perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa
membutuhkan pemikiran dan perenungan. Jika perbuatan yang dilahirkannya itu
baik menurut akal dan syara’, sifat tersebut dinamai akhlak yang baik. Demikian
sebaliknya.
Dari definisi ini jelas bahwa, perbuatan baik,
sebaik apapun itu, masih belum bisa dikatakan akhlak yang baik, jika perbuatan
itu dilakukan dengan perasaan terpaksa dan tidak sesuai dengan isi hatinya. Karena
pada hakikatnya ia telah menampakkan kemunafikan, hal ini selaras dengan apa
yang disampaikan KH. Thaifur Ali Wafa dalam kitabnya Firdausun Na’im,
bahwa “orang yang menampakkan sesuatu melebihi apa yang ada dalam hatinya
berarti dia telah menampakkan kemunafikan”.
Di sini kemudian al-Ghazali memberikan empat konsep
dasar untuk mencapai akhlak yang baik, sebagaimana yang disitir dalam kitabnya Ihya’
Ulumiddin, yaitu hikmah, syaja’ah, ‘iffah dan ‘adl. Hikmah adalah
keadaan jiwa di mana dengannya kita dapat membedakan yang benar dan yang salah
dalam keadaan sadar. Ini merupakan hal yang sangat penting agar orang dapat
berakhlak baik, karena boleh jadi dia dapat melakukan sesuatu dengan benar dan
baik pada suatu kondisi, tapi tidak dalam kondisi lain yang tak memungkinkan.
Oleh karena itu, kita dituntut untuk terus melatih jiwa kita dan terus berdo’a,
karena pada hakikatnya hikmah itu adalah pemberian Allah, sebagaimana firman-Nya
“yu’til hikmata man yasyaa’ wa man yu’tal hikmata faqad uutiya khairan
katsiira”.
Syaja’ah adalah kekuatan amarah yang berada dalam
kendali akal. Ini menjadi penting karena banyak perbuatan-perbuatan tercela
lahir dari ketidakmampuan seseorang menjaga amarahnya, seperti dengki, dendam,
namimah (adu domba) dan lain-lain. ‘iffah adalah kekuatan syahwat yang terdidik
dengan didikan akal dan syara’. Ini juga menjadi perhatian serius Imam
Al-Ghazali karena dari syahwat (keinginan) yang tidak terdidik akan melahirkan
sifat-sifat yang buruk seperti sombong, kikir, rakus dan lain-lain. Sedangkan
‘adl adalah keadaan dan kekuatan dalam jiwa yang dapat mengatur amarah dan
syahwat. Setelah amarah dan syahwat tersebut dapat kita tundukkan, maka
selanjutnya adalah mengarahkan keduanya pada hal-hal yang menjadi tuntutan dari
hikmah tadi. Dari keseimbangan keempat konsep dasar inilah muncul akhlak yang
baik.
Kita dituntut untuk selalu berakhlak baik dalam
segala aspek kehidupan. Hadits nabi mengingatkan “addiinu husnul khuluq”
(agama adalah akhlak yang baik), artinya dalam mengamalkan ajaran-ajaran agama
kita harus berakhlak yang baik. Kita harus mengerjakannya dengan mudah tanpa
ada beban sedikitpun. Ketika waktu sholat tiba, kita akan segera melakukannya
dengan senang hati tanpa menunda-nunda lagi karena sholat sudah menjadi kebutuhan.
Ketika ada pengemis datang, perasaan kita akan tidak enak kalau kita tidak
memberi. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Sayyidah ‘Aisyah bahwa akhlak
Nabi Muhammad Saw. adalah Al-Qur’an. Artinya Al-Qur’an sebagai pedoman Umat
Islam harus diamalkan dengan tanpa beban dan menjadi sifat yang melekat dalam
diri seseorang sebagaimana Al-Qur’an menjadi akhlak Rasulullah. Wallahu
A’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar