Selasa, 16 September 2014

Beragama Islam; Antara Hidayah Allah Dan Ikhtiar Manusia



Sering kali terdengar sebuah pertanyaan: Apakah orang itu memilih Islam (beragama Islam) karena usahanya sendiri atau karena mendapatkan petunjuk dari Allah? Apakah iman dan kafir itu merupakan kehendak Allah atau kehendak manusia sendiri? Sejak dulu masalah ini telah menjadi perdebatan yang sengit dan tak kunjung selesai, khususnya bagi Ahli Kalam. Materi yang diperdebatkan adalah tentang kehendak Tuhan dan ikhtiar manusia, sejauh mana pengaruh keduanya dalam menentukan nasib dan perjalanan hidup seseorang. Dalam perkembangannya, muncul tiga aliran Kalam yang sangat menonjol -yang hingga saat ini tetap mempertahankan fahamnya masing-masing dan sulit berkompromi- yaitu: Jabariyyah, Asy’ariyyah dan Mu’tazilah.
***
“Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’ Jika mereka masuk Islam, maka sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 20). “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya (untuk memeluk agama) Islam. Sedang barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am: 125)
Jika dilihat dari makna tekstualnya, kedua ayat di atas seakan-akan saling kontradiktif. Dalam surat Ali Imran: 20 menunjukkan adanya ikhtiar manusia untuk memilih Islam atau berpaling darinya, sedang dalam surat Al-An’am: 125 menunjukkan bahwa masalah manusia mendapat petunjuk atau tidak itu bergantung pada kehendak Allah. Tapi kalau kita kaji lebih dalam lagi, sebenarnya tidak ada yang kontradiktif dari kedua ayat tersebut dan bahkan mustahil diantara ayat-ayat Al-Qur’an ada kontradiksi (QS. An-Nisa’: 82).
            Jika kita merujuk pada Rukun Iman yang terakhir yaitu iman kepada takdir baik dan buruk, kita memperoleh pemahaman bahwa pada hakikatnya kebaikan dan keburukan itu sama-sama ditakdirkan adanya oleh Allah sejak zaman azali. Perbedaannya adalah: 1. Kebaikan itu ditakdirkan adanya dan dikehendaki Allah agar dipilih oleh manusia sebagai jalan hidupnya, sedang keburukan ditakdirkan adanya tapi tidak dikehendaki untuk dipilih manusia; 2. Kebaikan bersumber langsung dari Allah, sedang keburukan bersumber dari setan atau iblis dan hawa nafsu yang mana mereka juga ditakdirkan adanya oleh Allah.
            Sebagai konsekuensi dari adanya takdir baik dan buruk, maka di satu sisi Allah menciptakan fitrah-Nya (fitrah tauhid, kebaikan dan kebenaran) dalam diri manusia (QS. Ar-Rum: 30), dan di sisi yang lain Allah juga membekali manusia dengan nafsu (dalam arti hawa nafsu) yang mana menurut tabi’atnya selalu mengajak pada keburukan dan kejahatan (QS. Yusuf: 53). Allah juga memberikan ilham negatif (fujur) dan ilham positif (taqwa) dalam jiwa manusia (QS. Asy-Syams: 7-8). Dengan demikian, berarti manusia sejak awal mula penciptaannya telah mempunyai potensi baik dan potensi buruk. Kemudian manusia diberi akal agar mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan sebagai terminal dari semua itu adalah hati. Seandainya Allah tidak menakdirkan keburukan dan tidak membeikan potensi negatif kepada manusia, maka Dia tidak akan menciptakan sesuatu yang diharamkan bagi mereka. Namun, Allah menghendaki penciptaan manusia berbeda dengan penciptaan malaikat. Malaikat diciptakan tanpa ada nafsu dan potensi buruk, yang ada pada dirinya hanyalah kebaikan dan ketaatan. Penciptaan manusia juga berbeda dengan penciptaan binatang. Binatang tidak diberi akal pikiran seperti halnya manusia. Yang menonjol pada dirinya hanyalah nafsu hayawaniyahnya. Dengan demikian, ikhtiar manusia adalah ikhtiar yang sempurna (jika dibanding dengan ikhtiar malaikat maupun binatang). Oleh karena itu, jika ia beriman dan berbuat baik maka derajatnya bisa melebihi derajat malaikat, dan jika ia kafir dan berbuat buruk, derajatnya bisa lebih rendah dari pada binatang.
            Dari uraian di atas kemudian timbul pertanyaan, sebenarnya potensi manakah yang lebih besar dan dominan pengaruhnya terhadap pembentukan watak dan perilaku manusia? Dalam hal ini Syekh Muhammad Abduh mengatakan bahwa pada dasarnya manusia lebih cendrung pada kebaikan. Dalam menafsirkan ayat “lahaa maa kasabat wa ‘alayhaa maktasabat” Muhammad Abduh mengatakan: “sesungguhnya perbedaan makna kasaba dengan iktasaba adalah seperti perbedaan makna ‘amila dengan i’tamala. Masing-masing dari iktasaba dan i’tamala berfungsi ikhtira’ (membuat-buat) dan takalluf  (melakukan dengan berat dan sukar). Dengan demikian, ayat tersebut mengisyaratkan bahwa pada dasarnya manusia cendrung melakukan kebaikan. Sedang untuk terbiasa berbuat keburukan sangat sukar dan harus dengan upaya yang berat.”
            Di sini, jelas bahwa Allah SWT selalu menghendaki agar manusia melakukan kebaikan dan melarang manusia melakukan keburukan. Meskipun demikian, manusia tetap diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri dengan segala resiko dan konsekuensinya (QS. Al-Kahfi: 29). Namun, ikhtiar manusia itu tidak lepas dari kehendak Allah SWT. Dr. Muhammad Imarah membedakan kehendak Tuhan menjadi dua. Pertama, kehendak yang bersifat paksaan dan absolut. Kehendak ini tidak bisa dilakukan kecuali oleh Allah sendiri seperti dalam masalah penciptaan-Nya. Kedua, kehendak Allah yang disertai pemilihan, penyerahan dan pemberian kekuasaan kepada manusia sebagai khalifah-Nya. Iman dan takwa adalah kehendak Allah, tapi manusia diberi pemilihan, penyerahan dan pemberian kekuasaan agar perintah, larangan dan semua ajaran yang disampaikan oleh para rasul-Nya ada makna dan hikmahnya. Maka, tidak salah apabila mayoritas mufassirin menafsiri ayat “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya (untuk memeluk agama) Islam” dengan adanya intervensi Allah dalam keislaman seseorang karena memang hidayah dan petunjuk itu berasal dari Allah. Tidak salah juga jika ada sebagian mufassir yang menafsirinya dengan adanya ikhtiar manusia dalam perolehan hidayah Allah sebagaimana yang diutarakan oleh Muhammad Abduh. Karena pada akhirnya manusia jugalah yang akan menanggung segala resiko dari pilihan mereka sendiri. Yang salah adalah apabila memutlakkan kehendak Tuhan saja atau ikhtiar manusia saja. Karena jika kehendak Tuhan dimutlakkan dan menafikan ikhtiar manusia, maka apalah manfaat dari perintah, larangan dan semua beban taklif yang berkaitan dengan ikhtiar manusia. Demikian juga jika ikhtiar manusia dimutlakkan. Itu akan membuat kesombongan  saja selain juga akan membatasi kehendak-Nya. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar